AKU DAN SANG PENEMU

AKU DAN SANG PENEMU

Lala Intan Kumala

 

     Ada waktu dimana kita merasa kita adalah segalanya, terbang tinggi di angkasa untuk kemudian jatuh terhempas ke bumi mengenai laut, tenggelam lalu mati.

***

Aku tersentak bangun lalu terbatuk-batuk hingga memuntahkan air yang tadinya menyesaki rongga paruku. Samar mataku saat melihat ke sekeliling, kudapati seseorang dihadapanku, semua menghitam, kembali aku tidak sadarkan diri.

Kini aku berada pada ruang putih serta selang infus telah mengikat tanganku.

“Syukurlah, kau sudah sadar” kata seseorang lelaki yang berdiri di sebelahku.

“Siapa kau?” Tanyaku.

“Harusnya aku yang bertanya padamu, kau aku temukan di laut dekat pantai rumahku,” jelasnya.

“Aku dimana?” Kembali ku bertanya, kemudian kepalaku nyeri, tidak ada satu pun yang teringat bahkan namaku sendiri.

Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, aku divonis terkena amnesia karena banyaknya air yang masuk ke dalam tubuh hingga kurangnya oksigen dan benturan bebatuan karang membuat fungsi otak menjadi terganggu.

Sementara aku dirawat secara intensif agar segera pulih, namun anehnya lelaki yang menemukan aku tetap berada disini bahkan membayar tagihan perawatan selama aku dirumah sakit.

“Kenapa kau baik sekali, sungguh aku sangat berterima kasih.” Ucapku ketika kami berjalan keluar rumah sakit saat aku sudah diperbolehkan untuk pulang meskipun ingatanku belum berangsur pulih.

“Ayo kerumahku, sebenarnya kau lah yang menyelamatkan nyawaku, akan aku jelaskan nanti.” Dia mengajakku ke rumahnya, aku sempat bingung dan sedikit ragu, segera aku tepis karena dia orang yang baik dan tidak ada maksud lain.

Sampailah aku dirumahnya yang sederhana dengan pemandangan yang luar biasa menghadap samudera terbentang luas disana, aku sangat terpukau.

“Ayo masuk!” Ajaknya, kemudian ia mempersilahkan aku duduk dikursi, telah tersedia teh manis serta beberapa kue.

“Terima kasih, kau yang membuat kue ini sendiri?” Kuenya terasa sangat lezat dengan manisnya yang pas.

“Iya, biasanya aku membuatkan ini untuk ibuku, beliau sangat menyukainya.” Wajah lelaki itu berubah pilu.

“Lalu dimana ibumu?” Tanyaku.

“Belum lama ini ia meninggal,” jawabnya.

“Maaf aku tidak bermaksud-“

ia langsung memotong kalimatku kemudian mengatakan,

“Tidak, aku seharusnya malah berterima kasih padamu, waktu itu sepeninggal ibu, beliau meminta agar aku menikah namun sampai ia pergi pun aku belum juga memenuhi keinginannya, aku sangat sedih karenanya memutuskan untuk bunuh diri sampai aku melihatmu dan menghentikan niatku” penjelasannya membuatku hampir tidak percaya, tetapi dia tidak mungkin berbohong.

“Ohya namaku andi, apa kau sudah mengingat namamu?”

Kali ini ia bertanya menatapku fokus. Aku hanya menggeleng.

“Baiklah, aku akan memanggilmu mutiara.” Kupikir namanya juga tidak buruk jadi aku menyetujuinya. Sorenya aku bermain di bibir pantai menikmati indahnya senja sampai dia datang mengagetkanku, ia tertawa melihat reaksiku. Sekilas seolah-olah aku mengingat sesuatu sampai dia menepuk bahuku dan aku pun tersadar.

Andi menarik tanganku, kami berlari di tepian pantai, wajahnya pias terkena siraman mentari, mata coklatnya berpendar, senyumnya menawan. Aku rasa mulai menyukainya.

Kemudian ia menarikku ke air, menciumku dengan hangat, waktu seakan-akan berhenti pada senja itu, sekilas ingatan itu kembali tentang seorang lelaki yang menciumku untuk kemudian melompat bersama dan mengakhiri hidup bersama namun terakhir yang kulihat, dia masih berdiri disana menatapku iba sedang aku ditelan lautan. Ya, aku ingat sekarang.

Aku pamit pulang dan mengatakan akan sering mampir pada andi.

Suasana haru menyelimuti ketika aku sampai rumah, ayah dan ibu langsung memelukku. Dari cerita yang terdengar tentang kekasihku selepas kami memutuskan untuk bunuh diri bersama karena tidak direstui. Rupanya, sekarang dia telah menikah dengan wanita pilihan ibunya. Aku sangat terpukul dengan apa yang sudah ia lakukan, aku memutuskan untuk datang kerumahnya.

Betapa kagetnya ia saat melihatku masih hidup, tanpa sadar tanganku melayang menampar pipinya hingga memerah, setelah itu aku pergi tanpa mengucapkan satu kata pun sedangkan ia masih terperangah seakan tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Ibu dan ayah ingin menikahkan aku dengan pilihan mereka yang sedari dulu ku tolak, namun kali ini aku tidak menolaknya.

Esoknya mempelai pria dan keluarganya datang kerumah, entah apa ini sebuah kebetulan atau ini yang namanya takdir, kami dipertemukan kembali. Ialah Andi orang yang telah menyelamatkan hidupku. Dari semua yang aku alami mengajarkan aku banyak hal tentang patah, hilang, tumbuh, dan berganti sampai dipertemukan kembali.

Itulah mengapa tidak serta merta saat semua seolah tidak berpihak padamu dan kau pikir ini akhir segalanya, kau lupa akan esensi Tuhan, kau lupa bahwa ada rencana  Tuhan yang lebih baik daripada apa yang kau rencanakan, kau lupa pada banyaknya nikmat yang telah Tuhan beri sampai Tuhan mematahkan hatimu untuk menyelamatkanmu dari orang yang seharusnya tidak bersamamu.

Andi menggenggam tanganku erat, kami mengusap batu nisan ibunya, seketika aroma wangi tercium bersama desiran angin yang menerbangkan dedaunan kala itu.


+ komentar + 1 komentar

10 Desember 2020 pukul 08.38

terima kasih kaka

Posting Komentar

 
Copyright © 2020. E-BOOKKUTULIS - Design by: Lala Intan Kumala